spot_img

Fenomena Rojali dan Rohana, Antara Tantangan dan Peluang

BANJARBARU POST, Samarinda – Sepasang patung singa di sisi kiri dan kanan tegap menyambut langkah pengunjung memasuki teras bangunan berlantai lima. Bersamaan semerbak aroma kopi menyergap indera penciuman Ssaat salah satu pengunjung keluar gerai kopi tepat berada di sebelah kiri. Kala memasuki bangunan, sepasang patung berbusana pakai adat Dayak berdiri tegap diantara pintu masuk menyambut selamat dataang. Berpapasan muda-mudi kompak menenteng bungkusan terlihat berisi minuman melintas tepat di depan selepas dari tangga berjalan.

Jam di tangan menunjukkan pukul 15.03 wita, suasana pusat perbelanjaan berangsur-angsur ramai ba’da Jumatan (8/8). Tak sedikit pengunjung menenteng buah tangan hasil berbelanja. Sepertinya kaum rombongan jarang beli atau Rojali maupun rombongan hanya nanya alias Rohana yang merebak di Jakarta sono sepertinya tak sampai ke mall yang berdiri sejak 24 tahun lalu.

Seolah dikabulkan Yolanda Widianti Susilo, Marketing Communication PT Samarinda Central Plaza, ketika disambangi di kantornya disalah satu lorong di lantai 5.

Hilir mudik pengunjung di mall ini tidak ada perubahan secara signifikan, namun secara data hal ini belum bisa dituturkan wanita yang biasa disapa Lola. Untuk laporan penjualan pun dinyatakan sebagai confidential karena hanya dipunyai masing-masing tenant, permintaannya pun by request dan hanya bisa dikonsumsi pihak manajemen Samarinda Central Plaza dan pihak penyewa space jelas wanita berkacamata ini.

Lola pun berujar setiap pengunjung akan membawa buah tangan sesudah melakukan lawatannya.

Walaupun tidak ditemukan kaum rojali dan rohana, Lola tak menampik fenomena itu tetap menjadi perhatian pihak Samarinda Central Plaza untuk terus melakukan hal terbaik agar trafic pengunjung tetap stabil dan meningkat. Salah satu jurus yang dipakai adalah dihadirkan event setiap minggu sehingga jumlah kunjungan bisa meningkat. Saat ini pun sedang berlangsung peremajaan terhadap bangunan yang berdiri tahun 2001 ini. Nampak ketika(beranda.co/akselerasi.id/kliksamarinda.com) melewati lantai 4 sebelah kiri saat menuju kantor pengelola dan begitu pula saat berada di lantai 5, adanya kegiatan orang-orang yang identik beratribut petugas kontruksi melakukan pembenahan dan ditandai pembatas berupa dinding berbahan kayu lapis.

“Do the best lah,” tegasnya.

Berkunjung ke Kikitaru, keesokan harinya. Disambut perempuan berseragam atasan berwarna merah dengan lis hitam dan bawahan hitam, Dheris belakangan nama dikenalkannya, wanita berdomisili di Samarinda ini menjelaskan konsumen dengan kategori Rojali dan Rohana tidak didapati selama bertugas di restoran yang menawarkan makanan Jepang, berada di lantai dua Samarinda Central Plaza tepat berada disebelak kiri ketika keluar elevator. Kendati demikian Captain Store ini bercerita pernah satu waktu tertentu semisal ketika ada event dan pengunjung membludak terkadang satu atau dua konsumen duduk kemudian memesan dessert dan minuman, kemudian diikuti beberapa konsumen lain hingga dalam satu meja terkumpul lima orang, berbincang ketika ditawari pesanan dijawab nanti dulu setelahnya beberapa saat ditawarkan ulang tetap menerima jawaban yang sama hingga perkumpulan itu bubar.

Hal demikian menurut wanita yang sudah bekerja selama lima tahun di perusahaan ini memandangnya dari dua sisi, karena baginya ihwal tersebut bisa menjadi positif. Misalnya ketika berada di dalam Kikitaru ada yang melakukan swafoto kemudian di posting ke media sosialnya itu sebenarnya secara tidak lansung membantu mengenalkan Kikitaru ke khalayak ramai.

“Kalau kita pelayanannya oke ke mereka, next time mungkin mereka punya rezeki lebih pasti mereka ke sini lagi ngajak keluarga semua. Pasti ada imbal balik baiknya,” kata Dheris.

Store Manager Oh! Some Destian Angga pun turut bersuara saat disambangi ditempat kerjanya. “Saya lagi incas di Oh! Some Big Mall kak hari ini” sahutnya di aplikasi pesan ketika dimintai pendapatnya kemarin.

Baginya fenomena kaum Rojali dan Rohani jangan dimaknai negatif karena bisa jadi ada hal prioritas yang musti didahulukan, sehingga pria yang disapa Angga beranggapan semua pelanggan ketika memasuki toko diperlakukan sama tidak membedakan. Diakuinya kalau penjualan Oh! Some di Samarinda Central Plaza sendiri bisa memenuhi target dari perusahaannya. Teknik pelayanan excellent menjadi cara yang dipilihnya. Menurutnya dengan tidak membedakan layanan akan memberikan pengalaman tersendiri kepada calon pelanggan sehingga bisa menularkan kesan baik kepada calon pembeli lain.

Namun bukan berarti tanpa aksi ketika calon konsumen datang ke Oh! Some, Angga membagi salah satu cara agar calon pembeli bisa berbelanja ditempatnya yakni dengan meperkenalkan kalau produk tersebut ekslusif atau stok terbatas, terkini dan dicari banyak orang.

“Barangnya eksklusif ya, oh barangnya lagi viral nih, stoknya lagi kosong, apa stoknya terbatas. Jadi mau nggak mau customer akan membeli di hari itu juga,” ucap Angga. (Abe)

Facebook Comments Box

spot_img

Must Read

Related Articles

Facebook Comments Box